Eka Riyadi

Information Share for You
Random Image

.


Author Detail

Eka Riyadi

Registered Since: 2017-02-23 02:44:01

Description: .

Posts by admin:

    Dzauq Dan Syurb

    (Syair Rabiah Asy Syamiyah Al Adawiyah)

    Gelas minuman adalah susuan kita
    Kalau tak kita rasa
    Tak hidup kita

    Aku heran orang bicara, “Aku telah ingat Allah”
    Apakah aku alpa? Lalu kuingat yang kulupa?
    Kuminum Cinta, gelas piala demi gelas
    Tuntas habis, tak puas pula dahaga.
    Tentang Mabuk Ilahi para Sufi sering mengutip syair
    Pabila pagi cerah dengan kejora citanya
    itulah keserasian
    Antara kemabukan dan kesukacitaan.
    Sadar Dan Mabuk

    Kesadaranmu dari KataKu
    adalah sinambung
    Dan mabukmu dari bagianKu
    menyilakan teguk minuman
    Tak bosan-bosan peminumnya
    Tak bosan-bosan peneguknya
    Menyerah pada sudut piala
    yang memabukkan jiwanya.

    Orang-orang mabuk kepayang memutari gelas piala
    Sedang mabukku dari yang Maha Pemutar Piala
    Ada dua kemabukan bagiku
    dan hanya dua penyesal hanya satu
    Yang diperuntukkan bagi mereka
    hanya untukku.
    Dua mabuk kepayang
    Mabuk cinta
    Mabuk abadi

    Ketika siuman
    Segalanya bugar kembali.

    Selepas Ekstase (Junaid al-Baghdady)

    Selepas Ekstase
    (Junaid al-Baghdady)

    Orang-orang menyebutku Sufi, saat kukata
    Darahku terdiri dari Allah. Seluruh bulu romaku
    Bakal masuk Surga. Dan bagai Rabi’ah : kutaktakut Neraka
    O,mata mereka berbinar. Syahwat mereka nanar
    Inilah susahnya hidup di tengah-tengah masyarakat keledai
    Sebab terlalu silau dan terpukau oleh matahari bumi
    Mereka tak sekalipun membutuhkan tongkat Musa
    Sebab mereka berjubah Al-Hallaj. Dan puas menari
    Dalam irama khusu’ Rumi
    Hu, hu,hu,… … …

    Aku stres, wahai kekasih. Kehilangan kata-kata
    Di samudra kalimat-Mu. Aku menjadi gila pada suatu hari
    Berteriak disudut-sudut kota yang hangus oleh nista
    Ingin lari dari kungkungan para keledai. Ingin mencari
    mukjizat Nabi : mendaki Tursina-Mu
    berharap nemu tongkat gembala, lalu ngangon keledai dungu itu
    di padang-padang kebenaran yang telah mereka lupakan
    … … assalamu’aika !
    kuketuk pintu Kau dalam ekstase panjang. Rabbi, anta maksudi
    mereka makin terpukau. Hu, hu, hu, … …
    merekamnya dipita-pita kaset. Memutarnya dikedai-kedai kopi
    atau diatas pentas puisi. Menenggelamkam diri
    dalam kebahagiaan semu di lautan yang tak mereka pahami
    sembari mengunyah dunia

    : “Pinjami aku tongkatmu, Musa
    biar kubelah laut kebodohan
    yang jadi batas kebenaran
    melangkahi rumah nurani
    di kedalaman samudera hati.”

    Aku gila, wahai Kekasih. Aku gila !!
    Tapi mereka keledai semakin tak sadarkan diri
    Mengumbar gairah duniawisepanjang hari. Hu, hu, hu, … …
    Menari-nari Rumi. “Ngigau jadi Rabi’ah
    Tak takut Neraka, tak butuh Surga
    Mereka tegang dalam birahi. Kemaluannya menerobos hijab
    Dan tak lagi mampu menyimpan rahasia. Menggelinding
    Dan pamer di panggung-panggung kolosal sekaligus murahan
    Mendengus sana sini. Ngiler kesana kemari hingga puncak orgasme
    Kian menjauhi bukit Tursina yang menyimpan cahaya
    Tambah peduli pada kalimat ekstaseku
    Sambil histeris menoreh daging diri mereka kaligrafi
    Yang kehilangan makna : Allah, Allah, Allah, … …

    Aku gila sekaligus takut. Rabbi !
    Mereka mengeja bibirku sebagai Kitab Suci : anta maksudi
    Mereka membaptisku sebagai Sufi Sejati. Mereka ingin menyatu
    Keledai itu mengunyahku santai-santai bagai mngunyah dunia busuk ini
    : “Pinjami aku wahai Musa

    walau sebentar tongkat saktimu. Biar kungebut
    mendaki bukit-bukti kehidupan para keledai
    yang tengah asyik bersenggama dengan dunia
    yang teler tanpa ingat akan cahaya di Tursina.”

    O, ekstaseku direkam dalam berlusin pita
    Dibuat makalah : didiskusikan dengan sejumlah seponsor
    Dibumbui referensi busuk duniawi. Dijadikan nara sumber
    Dibedah dari berbagai sudut ilmiah semu di hotel brbintang
    Hu, hu, hu, … …

    Mereka yang mengaku anak cucu sufi itu larut
    Sambil memangku para betina. Menjelma menjadi binatang
    Yang belajar bicara macam manusia. Membuat kesimpulan
    Tentang perlunya sejarah baru yang baku
    O, mereka makin lepas landas. Mengingkari banjir bandang
    Yag menyelamatkan Nuh. Mengingkari kulit mulus Yunus
    Yang terhindar dari runcingnya gigi ikan buas
    Mengingkari azab. Mengingkari angin, petir dan bumi
    Yang berguncang. O, aku menyaksikan
    Wajah-wajah kaum A’ad dan Tsamud di tengah-tengah mereka

    Aku seperti tengah menonton Qorun dan Fir’aun berpidato di mimbar
    Aku bagai sedang diracuni puisi Ubay bin Kalaf yang berapi-api
    Maka aku berteriak keras-keras terhadap mereka. Mencaci-maki
    Mengasa ayat-ayat suci jadi pedang yang tajam
    Dan menuding-nuding kewajah mereka dengan rasa jijik
    O, para keledai itu sangat profesional dengan peranannya
    Tak sedikitpun gentar, malah sebaliknya. Mereka kini mengamuk
    Ke arahku, wahai Kekasih. Sekejap membuatku terpana
    Bagai menyaksikan reinkarnasi penderitaan Nabai-Nabi

    O, langit-Mu menggelarkan episode masa-lalu. Ada wajah Zakariya
    Yang digergaji. Ada wajah Isa yang disalib
    Dan tangan-Mu menyibak hijab dalam potret nurani: Langit
    Diserbu darah suci mereka. Lapis bumi teratas merubah diri jadi sayap.
    Membawa terbang kebenaran ke gerbang mahligai-Nya
    Dan al-Hallaj merintih dibanjir Tigris yang dia ciptakan
    Dan Rabi’ah mati diatas sajjadah kesederhanaan
    Ditikam cinta dan airmata ketakutan.

    Begitu lama kutunggu akhir kegilaan ini, wahai Kekasih
    Sebuah penantian yang panjang yang nyaris membuatku bosan.
    Sambil mencatat semua tingkah-Mu terhadapku. Malam-malam Enkau menarik
    selimut tidurku dengan sebuah bisikan itu ke itu : “Bangunlah
    Aku menanti kau di langit pertama-Ku.” Lantas aku
    menggeliat membuang tahu dunia di kedua pinggir mata hatiku
    Menepis mimpi-mimpi masyarakat yang melenakan sejak awal malam
    Membasuh semua kepalsuan dengan bening air suci Kau.

    O, didalam diri aku ambruk Sujudku basah
    Di tas sajjadah bumi-Mu. Menikmati batin
    Yang kini sejuk tersiram kasturi cinta nurani tatkala suluk
    (saat kuterjaga, jasadku jadi kelaparan
    selepas ekstase daku mencakar-cakar ladang dunia buat kehidupan).

    Warna Agama

    Warna Agama
    “Chinese Art and Greek Art”

    Rasul pernah berkata, “Ada orang-orang yang melihatku
    di dalam cahaya yang sama seperti aku melihat mereka.
    Kami adalah satu.
    Walau tak terhubung oleh tali apapun,
    walau tak menghafal buku dan kebiasaan,
    kami meminum air kehidupan bersama-sama.”
    Inilah sebuah kisah
    tentang misteri yang tersimpan:

    Sekelompok Tiongkok mengajak sekelompok Yunani
    bertengkar tentang siapa dari mereka
    adalah pelukis yang terhebat.
    Lalu raja berkata, “Kita buktikan ini dengan debat.”
    Tiongkok memulai perdebatan.
    Tapi Yunani hanya diam, mereka tak suka perdebatan.
    Tiongkok lalu meminta dua ruangan
    untuk membuktikan kehebatan lukisan mereka,
    dua ruang yang saling menghadap
    terpisah hanya oleh tirai.
    Tiongkok meminta pada raja
    beberapa ratus warna lagi, dengan segala jenisnya.
    Maka setiap pagi, mereka pergi
    ke tempat penyimpanan pewarna kain
    dan mengambil semua yang ada.
    Yunani tidak menggunakan warna,
    “warna bukanlah lukisan kami.”
    Masuklah mereka ke ruangannya
    lalu mulai membersihkan dan menggosok dindingnya.
    Setiap hari, setiap saat, mereka membuat
    dinding-dindingnya lebih bersih lagi,
    seperti bersihnya langit yang terbuka.

    Ada sebuah jalan yang membawa semua warna
    menjadi ‘warna tak lagi ada’. Ketahuilah,
    seindah-indahnya berbagai jenis warna
    di awan dan langit, semua berasal dari
    sempurnanya kesederhanaan matahari dan bulan.
    Tiongkok telah selesai, dan mereka sangat bangga
    tambur ditabuh dalam kesenangan
    dengan selesainya lukisan agung mereka.
    Waktu raja memasuki ruangan, terpana dia
    karena keindahan warna dan seluk-beluknya.
    Lalu Yunani menarik tirai yang memisahkan ruangan mereka.
    Dan tampaklah bayangan lukisan Tiongkok dan semua pelukisnya
    berkilauan terpantul pada dindingnya yang kini bagaikan cermin bening,
    seakan mereka hidup di dalam dinding itu.
    Bahkan lebih indah lagi, karena
    tampaknya mereka selalu berubah warna.
    Seni lukis Yunani itulah jalan sufi.
    Jangan hanya mempelajarinya dari buku.
    Mereka membuat cintanya bening, dan lebih bening.
    Tanpa hasrat, tanpa amarah. Dalam kebeningan itu
    mereka menerima dan memantulkan kembali
    lukisan dari setiap potong waktu,
    dari dunia ini, dari gemintang, dari tirai penghalang.
    Mereka mengambil jalan itu ke dalam dirinya,
    sebagaimana mereka melihat
    melalui beningnya Cahaya
    yang juga sedang melihat mereka semua.

    Syair-Syair Al Hallaj

    Ana Al-Haqq, Al-Hallaj
    Aku adalah Dia yang kucinta dan
    Dia yang kucinta adalah aku
    Kami adalah dua jiwa yang bertempat dalam satu tubuh.
    Jika engkau lihat aku, engkau lihat Dia,
    dan jika engkau lihat Dia, engkau lihat aku

    Maha suci zat yang sifat kemanusiaan-Nya,
    membukakan rahasia cahaya ketuhanan-Nya yang gemilang.
    Kemudian kelihatan baginya makhluk-Nya,
    dengan nyata dalam bentuk manusia yang makan dan minum.

    Jiwa-Mu disatukan dengan jiwaku,
    sebagaimana anggur disatukan dengan air murni.
    Jika sesuatu menyentuh Engkau,
    ia menyentuhku pula,
    dan ketika itu dalam tiap hal Engkau adalah aku.
    Aku adalah rahasia Yang Maha Benar,
    dan bukanlah Yang Maha Benar itu aku
    Aku hanya satu dari yang benar, maka bedakanlah antara kami.

    Sebelumnya tidak mendahului-Nya, setelah
    tidak menyela-Nya, daripada tidak
    bersaing dengan Dia dalam hal
    keterdahuluan, dari tidak sesuai dengan Dia,
    ketidak menyatu dengan dia, Dia tidak mendiami Dia,
    kala tidak menghentikan Dia, jika tidak berunding dengan Dia,
    atas tidak membayangi Dia,dibawah tidak menyangga Dia, sebaliknya tidak menghadapi-Nya, dengan tidak menekan Dia, dibalik tidak mengikat Dia,
    didepan tidak membatasi Dia, terdahulu tidak memameri Dia,
    dibelakang tidak membuat Dia luruh, semua tidak menyatukan Dia,
    ada tidak memunculkan Dia, tidak ada tidak membuat Dia lenyap, penyembunyian
    tidak menyelubungi Dia, pra-eksistensi-Nya mendahului waktu, adanya Dia
    mendahului yang belum ada, kekalahan-Nya mendahului adanya batas.

    Di dalam kemuliaan tiada aku,
    atau Engkau atau kita,
    Aku, Kita, Engkau dan Dia seluruhnya menyatu.
    Fana’i Fana’i Fana’
    Kehinaanku adalah KemuliaanMu
    Kehilanganku adalah KerinduanMu
    Ketiadaanku adalah KeabadianMu
    Kepedihanku adalah CintaMu
    Kekuranganku adalah KelebihanMu
    Kesendirianku adalah pertemuanku denganMu
    Kematianku adalah kebangkitanMu
    Kebisuanku adalah TitahMu
    Aku adalah Kamu, Kamu adalah Aku…

    (Al-Hallaj)

    Syair-syair Cinta Ilahi

    Syair-Syair Cinta

    Para sufi seringkali menggunakan metafora pengalaman batin mereka dengan sejumlah syair yang teramat indah, mengingat, syathahat atau kata-kata jadzabiyahnya sulit diuraikan dengan bahasa formal. Di bawah ini sejumlah contoh yang digunakan oleh Abul Qasim al-Qusyairi dalam menjelaskan sejumlah terminologi tasawuf melalui beberapa syair:
    Waktu

    Setiap hari ia lewat merengkuh tanganku
    memberikan sesal dalam hatiku
    kemudian, berlalu.

    Seperti penghuni neraka
    Jika kulit-kulitnya terpanggang
    kembali pula kulit-kulit itu
    untuk sbuah derita panjang

    Bukanlah orang mati itu
    istirahat seperti mayat
    Kematian adalah
    mati kehidupannya.
    (Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq)
    Haibah Dan Uns

    Aku datangi
    Aku tak mengerti
    Dari mana
    Siapa
    Aku
    Melainkan yang dikatakan orang-orang
    pada diriku, pada jenisku
    Aku datangi jin dan manusia
    Lalu tak kutemui siapa pun
    Lantas kuatangi diriku.

    Tiba-tiba bisikan halus dalam kalbuku:
    Amboi, siapakah yang tahu sebab-sebab yang lebih luhur
    wujudnya
    toh ia bersukaria dengan kehinaan yang sesat
    dan dengan manusia
    Kalau engkau dari kalangan sirna yang hakiki
    Pastikan engkau ghaib dari semesta, arasy dan kursy
    Padahal dirimu jauh dari Haal bersama Allah
    Jauh dari berdzikir
    Lebih pada Jin dan Manusia.
    (Abu Said al-Kharraz)
    Wujd (Ekstase)

    Gelas yang dibasahi air
    karena cemerlang beningnya
    Lalu mutiara yang tumbuh dari bumi emas
    Sementara kaum Sufi menycikan karena kagum
    pada cahaya air dalam api dari anggur yang ranum
    yang diwarisi ´Aad dari negeri Iram
    sebagai simpanan Kisra
    Sejak nenek moyangnya.
    (Abu Bakr asy-Syibly)
    Jam Dan Farq

    Engkau wujudkan Nyata-Mu
    dalam rahasiaku
    Lisanku munajat kepada-Mu
    Lalu kita berkumpul bagi makna-makna
    Berpisah bagi makna-makna pula
    Jika Gaib-Mu adalah Keagungan dari lintas mataku
    Toh Engkau buat serasi dari dalam yang mendekat padaku.
    (Junaid al-Baghdady)

    Fana’ Dan Baqa’

    Ada kaum yang tersesat di padang gersang
    Ada pula yang tersesat di padang cintanya
    Mereka sirna, kemudian sirna dalam kesirnaan, lalu sirna total
    Lalu mereka kekal, dalam kekalnya kekal dari kekaraban dengan Tuhannya.
    (Syair yang sering dikutip para sufi).

    Sadar Dan Mabuk

    Kesadaranmu dari KataKu
    adalah sinambung
    Dan mabukmu dari bagianKu
    menyilakan teguk minuman
    Tak bosan-bosan peminumnya
    Tak bosan-bosan peneguknya
    Menyerah pada sudut piala
    yang memabukkan jiwanya.

    Orang-orang mabuk kepayang memutari gelas piala
    Sedang mabukku dari yang Maha Pemutar Piala
    Ada dua kemabukan bagiku
    dan hanya dua penyesal hanya satu
    Yang diperuntuukan bagi mereka
    hanya untukku.
    Dua mabuk kepayang
    Mabuk cinta
    Mabuk abadi

    Ketika siuman
    Segalanya bugar kembali.

    Syair Cinta Sufi Rabiah Al-Adawiyah Al-Bashriah

    Syair 1
    Tuhanku, tenggelamkan aku dalam cintaMu
    Hingga tak ada satupun yang mengganguku dalam jumpaMu
    Tuhanku, bintang gemintang berkelip-kelip
    Manusia terlena dalam buai tidur lelap
    Pintu pintu istana pun telah rapat
    Tuhanku, demikian malam pun berlalau
    Dan inilah siang datang menjelang
    Aku menjadi resah gelisah
    Apakah persembahan malamku, Engkau terima
    Hingga aku berhak merengguk bahagis
    Ataukah itu Kau tolak, hingga aku dihimpit duka,
    Demi kemaha kuasaanMu
    inilah yang akan selalau ku lakukan
    Selama Kau beri aku kehidupan
    Demi kemanusianMu,
    Andai Kau usir aku dari pintuMu
    Aku tak akan pergi berlalu
    Karena cintaku padaMu sepenuh kalbu

    Syair 2
    Ya Allah, apa pun yang akan Engkau
    Karuniakan kepadaku di dunia ini,
    Berikanlah kepada musuh-musuhMu
    Dan apa pun yang akan Engkau
    Karuniakan kepadaku di akhirat nanti,
    Berikanlah kepada sahabat-sahabatMu
    Karena Engkau sendiri, cukuplah bagiku

    Syair 3
    Aku mengabdi kepada Tuhan
    Bukan karena takut neraka
    Bukan pula karena mengharap masuk surga
    Tetapi aku mengabdi,
    Karena cintaku padaNya
    Ya Allah, jika aku menyembahMu
    Karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya
    Dan jika aku menyembahMu
    Karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya
    Tetapi, jika aku menyembahMu
    Demi Engkau semata,
    Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajahMu
    Yang abadi padaku

    Syair 4
    Ya Allah
    Semua jerih payahku
    Dan semua hasratku di antara segala
    Kesenangan-kesenangan
    Di dunia ini, adalah untuk mengingat Engkau
    Dan di akhirat nanti, diantara segala kesenangan
    Adalah untuk berjumpa denganMu
    Begitu halnya dengan diriku
    Seperti yang telah Kau katakana
    Kini, perbuatlah seperti yang Engkau Kehendaki

    Syair 5
    Aku mencintaiMu dengan dua cinta
    Cinta karena diriku dan cinta karena diriMu
    Cinta karena diriku, adalah keadaan senantiasa mengingatMu
    Cinta karena diriMu, adalah keadaanMu mengungkapkan tabir
    Hingga Engkau ku lihat
    Baik untuk ini maupun untuk itu
    Pujian bukanlah bagiku
    BagiMu pujian untuk semua itu

    Syair 6
    Buah hatiku, hanya Engkau yang kukasihi
    Beri ampunlah pembuat dosa yang datang kehadiratMu
    Engkaulah harapanku, kebahagiaan dan kesenanganku
    Hatiku telah enggan mencintai selain dari Engkau

    Syair 7
    Hatiku tenteram dan damai jika aku diam sendiri
    Ketika Kekasih bersamaku
    CintaNya padaku tak pernah terbagi
    Dan dengan benda yang fana selalu mengujiku
    Kapan dapat kurenungi keindahanNya
    Dia akan menjadi mihrabku
    Dan rahasiaNya menjadi kiblatku
    Bila aku mati karena cinta, sebelum terpuaskan
    Akan tersiksa dan lukalah aku di dunia ini
    O, penawar jiwaku
    Hatiku adalah santapan yang tersaji bagi mauMu
    Barulah jiwaku pulih jika telah bersatu dengan Mu
    O, sukacita dan nyawaku, semoga kekallah
    Jiwaku, Kaulah sumber hidupku
    Dan dariMu jua birahiku berasal
    Dari semua benda fana di dunia ini
    Dariku telah tercerah
    Hasratku adalah bersatu denganMu
    Melabuhkan rindu

    Syair 8
    Sendiri daku bersama Cintaku
    Waktu rahasia yang lebih lembut dari udara petang
    Lintas dan penglihatan batin
    Melimpahkan karunia atas doaku
    Memahkotaiku, hingga enyahlah yang lain, sirna
    Antara takjub atas keindahan dan keagunganNya
    Dalam semerbak tiada tara
    Aku berdiri dalam asyik-masyuk yang bisu
    Ku saksikan yang datang dan pergi dalam kalbu
    Lihat, dalam wajahNya
    Tercampur segenap pesona dan karunia
    Seluruh keindahan menyatu
    Dalam wajahNya yang sempurna
    Lihat Dia, yang akan berkata
    “Tiada Tuhan selain Dia, dan Dialah Yang maha Mulia.”

    Syair 9
    Rasa riangku, rinduku, lindunganku,
    Teman, penolong dan tujuanku,
    Kaulah karibku, dan rindu padaMu
    Meneguhkan daku
    Apa bukan padaMu aku ini merindu
    O, nyawa dan sahabatku
    Aku remuk di rongga bumi ini
    Telah banyak karunia Kau berikan
    Telah banyak..
    Namun tak ku butuh pahala
    Pemberian ataupun pertolongan
    CintaMu semata meliput
    Rindu dan bahagiaku
    Ia mengalir di mata kalbuku yang dahaga
    Adapun di sisiMu aku telah tiada
    Kau bikin dada kerontang ini meluas hijau
    Kau adalah rasa riangku
    Kau tegak dalam diriku
    Jika akku telah memenuhiMu
    O, rindu hatiku, aku pun bahagia

    Puisi-puisi Sufi Jalaludin Rumi

    Jalaludin Rumi

    Jalaludin Rumi

    Jalaluddin Rumi selain sebagai seorang ulama besar pada masanya (mullah) beliau juga dikenal sebagai penyair besar sepanjang massa, karyanya hadir dalam bentuk puisi kecintaan kepada Ilahi yang mengajak umat untuk berpikir kembali tentang cinta yang hakiki. Nama lengkap Rumi adalah Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri. Lahir pada 30 September 1207 Masehi di Balkh.

    Jalaluddin Rumi dibesarkan dalam keluarga dan masyarakat yang memberikan semangat keagamaan padanya. Ayahnya, Bahauddin Walad seorang pejabat yang mendapat kedudukan tinggi di kalangan keagamaan di Khorasan.

    Berikut ini beberapa Puisi Sufi Jalaludin Rumi:

    PUASA MEMBAKAR HIJAB

    Rasa manis yang tersembunyi,

    Ditemukan di dalam perut yang kosong ini!

    Ketika perut kecapi telah terisi,

    ia tidak dapat berdendang,

    Baik dengan nada rendah ataupun tinggi.

    Jika otak dan perutmu terbakar karena puasa,

    Api mereka akan terus mengeluarkan ratapan dari dalam dadamu.

    Melalui api itu, setiap waktu kau akan membakar seratus hijab.

    Dan kau akan mendaki seribu derajat di atas jalan serta dalam hasratmu.

    DIA TIDAK DI TEMPAT LAIN

    Salib dan ummat Kristen, ujung ke ujung, sudah kuuji.

    Dia tidak di Salib.

    Aku pergi ke kuil Hindu, ke pagoda kuno.

    Tidak ada tanda apa pun di dalamnya.

    Menuju ke pegunungan Herat aku melangkah,

    dan ke Kandahar Aku memandang.

    Dia tidak di dataran tinggi

    maupun dataran rendah. Dengan tegas,

    aku pergi ke puncak gunung Kaf (yang menakjubkan).

    Di sana cuma ada tempat tinggal

    (legenda) burung Anqa.

    Aku pergi ke Ka’bah di Mekkah.

    Dia tidak ada di sana.

    Aku menanyakannya kepada Avicenna (lbnu Sina) sang filosuf

    Dia ada di luar jangkauan Avicenna …

    Aku melihat ke dalam hatiku sendiri.

    Di situlah, tempatnya, aku melihat dirinya.

    Dia tidak di tempat lain.

    DISEBABKAN RIDHO-NYA

    Jika saja bukan karena keridhaan-Mu,

    Apa yang dapat dilakukan oleh manusia yang seperti debu ini

    dengan Cinta-Mu?

     

    KARENA CINTA

    Kerana cinta duri menjadi mawar

    kerana cinta cuka menjelma anggur segar

    Kerana cinta keuntungan menjadi mahkota penawar

    Kerana cinta kemalangan menjelma keberuntungan

    Kerana cinta rumah penjara tampak bagaikan kedai mawar

    Kerana cinta tompokan debu kelihatan seperti taman

    Kerana cinta api yang berkobar-kobar

    jadi cahaya yang menyenangkan

    Kerana cinta syaitan berubah menjadi bidadari

    Kerana cinta batu yang keras

    menjadi lembut bagaikan mentega

    Kerana cinta duka menjadi riang gembira

    Kerana cinta hantu berubah menjadi malaikat

    Kerana cinta singa tak menakutkan seperti tikus

    Kerana cinta sakit jadi sihat

    Kerana cinta amarah berubah

    menjadi keramah-ramahan

    LETAK KEBENARAN

    Kebenaran sepenuhnya bersemayam di dalam hakekat,

    Tapi orang dungu mencarinya di dalam kenampakan.

    KAU DAN AKU

    Nikmati waktu selagi kita duduk di punjung,

    Kau dan Aku;

    Dalam dua bentuk dan dua wajah — dengan satu jiwa,

    Kau dan Aku.

    Warna-warni taman dan nyanyian burung memberi obat keabadian

    Seketika kita menuju ke kebun buah-buahan, Kau dan Aku.

    Bintang-bintang Surga keluar memandang kita –

    Kita akan menunjukkan Bulan pada mereka, Kau dan Aku.

    Kau dan Aku, dengan tiada ‘Kau’ atau ‘Aku’,

    akan menjadi satu melalui rasa kita;

    Bahagia, aman dari omong-kosong, Kau dan Aku.

    Burung nuri yang ceria dari surga akan iri pada kita –

    Ketika kita akan tertawa sedemikian rupa; Kau dan Aku.

    Ini aneh, bahwa Kau dan Aku, di sudut sini …

    Keduanya dalam satu nafas di Iraq, dan di Khurasan –

    Kau dan Aku.

    RAHASIA YANG TAK TERUNGKAP

    Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta),

    Itu semua hanyalah kulit.

    Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah

    rahasia yang tak terungkapkan.

    PERNYATAAN CINTA

    Bila tak kunyatakan keindahan-Mu dalam kata,

    Kusimpan kasih-Mu dalam dada.

    Bila kucium harum mawar tanpa cinta-Mu,

    Segera saja bagai duri bakarlah aku.

    Meskipun aku diam tenang bagai ikan,

    Tapi aku gelisah pula bagai ombak dalam lautan

    Kau yang telah menutup rapat bibirku,

    Tariklah misaiku ke dekat-Mu.

    Apakah maksud-Mu?

    Mana kutahu?

    Aku hanya tahu bahwa aku siap dalam iringan ini selalu.

    Kukunyah lagi mamahan kepedihan mengenangmu,

    Bagai unta memahah biak makanannya,

    Dan bagai unta yang geram mulutku berbusa.

    Meskipun aku tinggal tersembunyi dan tidak bicara,

    Di hadirat Kasih aku jelas dan nyata.

    Aku bagai benih di bawah tanah,

    Aku menanti tanda musim semi.

    Hingga tanpa nafasku sendiri aku dapat bernafas wangi,

    Dan tanpa kepalaku sendiri aku dapat membelai kepala lagi.

    HATI BERSIH MELIHAT TUHAN

    Setiap orang melihat Yang Tak Terlihat

    dalam persemayaman hatinya.

    Dan penglihatan itu bergantung pada seberapakah

    ia menggosok hati tersebut.

    Bagi siapa yang menggosoknya hingga kilap,

    maka bentuk-bentuk Yang Tak Terlihat

    semakin nyata baginya.

    KEMBALI PADA TUHAN

    Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka,

    maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.Begitulah caranya!

    Jika engkau hanya mampu merangkak,

    maka merangkaklah kepadaNya!Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk,

    maka tetaplah persembahkan doamu

    yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;

    kerana Tuhan, dengan rahmatNya

    akan tetap menerima mata wang palsumu!Jika engkau masih mempunyai

    seratus keraguan mengenai Tuhan,

    maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.Begitulah caranya!Wahai pejalan!

    Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,

    ayuhlah datang, dan datanglah lagi!Kerana Tuhan telah berfirman:

    “Ketika engkau melambung ke angkasa

    ataupun terpuruk ke dalam jurang,

    ingatlah kepadaKu, kerana Akulah jalan itu.”

    KESUCIAN HATI

    Di manapun, jalan untuk mencapai kesucian hati

    ialah melalui kerendahan hati.

    Maka dia akan sampai pada jawaban “Ya” dalam pertanyaan

    Bukankah Aku Tuhanmu?

    MENYATU DALAM CINTA

    Berpisah dari Layla, Majnun jatuh sakit. Badan semakin lemah, sementara suhu badan semakin tinggi.Para tabib menyarankan bedah, “Sebagian darah dia harus dikeluarkan, sehinggu suhu badan menurun.”Majnun menolak, “Jangan, jangan melakukan bedah terhadap saya.”Para tabib pun bingung, “Kamu takut? padahal selama ini kamu masuk-keluar hutan seorang diri. Tidak takut menjadi mangsa macan, tuyul atau binatang buas lainnya. Lalu kenapa takut sama pisau bedah?”“Tidak, bukan pisau bedah itu yang kutakuti,” jawab Majnun.“Lalu, apa yang kau takuti?”“Jangan-jangan pisau bedah itu menyakiti Layla.”“Menyakiti Layla? Mana bisa? Yangn dibedah badanmu.”“Justru itu. Layla berada di dalam setiap bagian tubuhku. Mereka yang berjiwa cerah tak akan melihat perbedaan antara aku dan Layla.”

    MEMAHAMI MAKNA

    Seperti bentuk dalam sebuah cermin, kuikuti Wajah itu.

    Tuhan menampakkan dan menyembunyikan sifat-sifat-Nya.

    Tatkala Tuhan tertawa, maka akupun tertawa.

    Dan manakala Tuhan gelisah, maka gelisahlah aku.

    Maka katakana tentang Diri-Mu, ya Tuhan.

    Agar segala makna terpahami, sebab mutiara-mutiara

    makna yang telah aku rentangkan di atas kalung pembicaraan

    berasal dari Lautan-Mu.

    TUHAN HADIR DALAM TIAP GERAK

    Tuhan berada dimana-mana.

    Ia juga hadir dalam tiap gerak.

    Namun Tuhan tidak bisa ditunjuk dengan ini dan itu.

    Sebab wajah-Nya terpantul dalam keseluruhan ruang.

    Walaupun sebenarnya Tuhan itu mengatasi ruang.

    AKU ADALAH KEHIDUPAN KEKASIHKU

    Apa yang dapat aku lakukan, wahai umat Muslim?

    Aku tidak mengetahui diriku sendiri.

    Aku bukan Kristen, bukan Yahudi,

    bukan Majusi, bukan Islam.

    Bukan dari Timur, maupun Barat.

    Bukan dari darat, maupun laut.

    Bukan dari Sumber Alam,

    Bukan dari surga yang berputar,

    Bukan dari bumi, air, udara, maupun api;

    Bukan dari singgasana, penjara, eksistensi, maupun makhluk;

    Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqseen;

    Bukan dari kerajaan Iraq, maupun Khurasan;

    Bukan dari dunia kini atau akan datang:

    surga atau neraka;

    Bukan dari Adam, Hawa,

    taman Surgawi atau Firdaus;

    Tempatku tidak bertempat,

    jejakku tidak berjejak.

    Baik raga maupun jiwaku: semuanya

    adalah kehidupan Kekasihku …

    LIHATLAH YANG TERDALAM

    Jangan kau seperti iblis,

    Hanya melihat air dan lumpur ketika memandang Adam.

    Lihatlah di balik lumpur,

    Beratus-ratus ribu taman yang indah!

    KETERASINGAN DI DUNIA

    Mengapa hati begitu terasing dalam dua dunia?

    Itu disebabkan Tuhan Yang Tanpa Ruang,

    Kita lemparkan menjadi terbatasi ruang.